Belakangan ini, ramalan resesi global menjadi perbincangan hangat di kalangan publik global, termasuk Indonesia. Presiden Bank Dunia David Malpass dan Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional Kristalina Georgieva telah memperingatkan meningkatnya risiko resesi global, mengatakan inflasi tetap menjadi masalah yang terus berlanjut setelah perang di Rusia dan Ukraina. Ia juga mengatakan, pertumbuhan ekonomi di beberapa negara melambat, mata uang melemah di beberapa negara berkembang, dan masalah inflasi terus berlanjut.
Sri Mulyani, Menteri Keuangan Republik Indonesia, juga memprediksi risiko resesi global di tahun mendatang. Resesi global mengancam untuk memperlambat pertumbuhan global dan menaikkan harga komoditas. Sri Mulyani mengatakan banyak negara di dunia serentak menaikkan suku bunga dasar hingga ekstrem. Hal ini menyebabkan inflasi yang mengarah ke resesi.
Resesi secara sederhana dapat diartikan sebagai situasi di mana ekonomi negara melemah karena produk domestik bruto (PDB) negatif, pertumbuhan pengangguran dan pertumbuhan negatif ekonomi riil selama dua kuartal berturut-turut.
Kelesuan ekonomi ini disebabkan beberapa faktor pendorong, antara lain pandemi Covid-19. Salah satu penyebab penurunan ekonomi global ini juga karena masalah yang terus berlanjut akibat perang antara Rusia dan Ukraina. Selain itu, utang individu dan perusahaan yang berlebihan di dalam negeri juga menjadi penyebab resesi ekonomi. Naiknya suku bunga, krisis keuangan di pasar negara berkembang dan ekonomi berkembang dapat membuat resesi 2023 berlangsung sedikit lebih lama.
Kristalina Georgieva, Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional, mengatakan resesi 2023 akan memperlambat perekonomian di tiga kawasan ekonomi utama, yakni Eropa, China, dan Amerika Serikat. Menurut penelitian Bloomberg, Indonesia adalah salah satu dari sedikit negara di Asia yang kemungkinan terjadinya penurunan ekonomi dianggap sangat rendah. Probabilitas resesi Indonesia adalah 3% dalam survei Bloomberg. Indonesia cenderung mengalami resesi dibandingkan negara ASEAN lainnya seperti Filipina (8%), Thailand (10%), Vietnam (10%) dan Malaysia (13%). Indonesia juga jauh lebih tangguh dibandingkan rekan-rekan Asia-Pasifik dengan kemungkinan resesi tertinggi, yaitu Sri Lanka (85%), Selandia Baru (33%), Korea Selatan (25%), Jepang (25%) dan China (20 ). ). %).
Berdasarkan data di atas, Indonesia tidak akan terpengaruh oleh resesi yang begitu parah, jika kita mengambil dasar indikator ekonomi Indonesia yang masih cukup stabil dan nilai ekspor Indonesia yang relatif kecil dibandingkan dengan negara-negara yang terkena dampak langsung resesi. resesi. Walaupun kemungkinan terjadinya resesi ekonomi Indonesia lebih kecil dari negara-negara tetangganya, bukan berarti kita bisa santai menghadapi konsekuensi dari kemungkinan terjadinya resesi ekonomi. Seperti yang dikutip studiangmu.ojk.go.id, resesi berdampak pada:
1. Resesi ekonomi memaksa sektor riil membatasi kapasitas produksinya, sehingga sering terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK), bahkan beberapa perusahaan tutup dan berhenti beroperasi.
2. Kinerja instrumen investasi melemah sehingga investor cenderung menginvestasikan dananya pada bentuk investasi yang aman.
3. Disruptive economy tentunya akan mempengaruhi daya beli masyarakat, karena mereka akan lebih selektif dengan uangnya, fokus dulu untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.
Resesi ekonomi memang menjadi masalah yang cukup serius yang ditakuti banyak negara. Menurut proyeksi tersebut, meski Indonesia masih jauh dari resesi global 2023, Indonesia harus siap menghadapi apapun yang akan terjadi di masa depan.
Hal-hal yang Harus Disiapkan untuk Resesi Global 2023
Resesi ekonomi diprediksi terjadi pada tahun 2023 yang salah satunya ditandai dengan penurunan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) yang dapat mempengaruhi kondisi keuangan masyarakat. Itu sebabnya pakar keuangan menyarankan masyarakat untuk "menggemukkan" uang tunai. Dengan cara ini, masyarakat dapat meminimalkan dampak resesi global.
Langkah selanjutnya untuk mempersiapkan resesi 2023:
1. Tetap sehat
Menjaga kesehatan adalah hal terpenting untuk mempersiapkan fisik dan mental menghadapi tekanan keuangan. Dengan menjaga kesehatan, kita siap menghadapi depresi atau krisis berikutnya. Jika kesehatan sudah terganggu, bagaimana kita bisa menghadapi kemerosotan ekonomi di masa depan?
2. Sediakan dana darurat
Kita harus punya dana darurat untuk menghadapi resesi. Dalam situasi keuangan yang tidak menentu seperti itu, dana darurat bisa menjadi langkah preventif bagi kita jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Dengan dana darurat, kita bisa terhindar dari utang.
3. Hentikan gaya hidup konsumtif
Hal terpenting dalam menghadapi keterpurukan ekonomi adalah mengelola perekonomian dengan baik. Mulailah dengan memetakan kebutuhan utama Anda. Turunkan gaya hidup, turunkan gaya hidup konsumeris.
4. Mulailah mencari penghasilan tambahan
Perhatikan saat melihat peluang di depan kita. Manfaatkan peluang yang ada disekitar kita, temukan hobi yang bisa anda jadikan sebagai penghasilan tambahan. Atau menambah skill baru agar bisa dijadikan penghasilan tambahan.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa ancaman resesi di tahun 2023 adalah nyata. Namun, sebagai warga negara yang bijak, kita tidak boleh pesimis dengan keadaan saat ini. Kita dapat memprediksi dampak resesi tahun 2023 dengan memproyeksikan biaya dan mengamati tren ekonomi saat ini.
The games you played were never fun (mm) You'd say you'd stay but then you'd run (ah)
Givin' you what you're beggin' for Givin' you what you say I need I don't want any settled scores I just want you to set me free Givin' you what you're beggin' for Givin' you what you say I need Say I need
I'm not afraid anymore What makes you sure you're all I need? Forget about it When you walk out the door and leave me torn You're teachin' me to live without it
The history of Bali, an island in Indonesia that is referred to as "The Island of the Gods,"
Island of Bali
The Indonesian province of Bali is situated between the islands of Java and Lombok. Bali island is also known as The Island of Gods, The Island of Thousands of Temples, and Bali Dwipa. A number of smaller islands, such as Nusa Penida, Nusa Lembongan, Nusa Ceningan, Serangan Island, and Menjangan Island, are also a part of the province of Bali.
The southernmost city on the island, Denpasar, serves as the capital of Bali. Bali is a well-known tourist destination due to its distinctive art and culture. The island of Bali is the ideal destination for a vacation because it has top-notch lodging.
History of Bali
Around 2000 BC, Austronesian peoples that had originally migrated from Taiwan through Maritime Southeast Asia settled in Bali. The Balinese are therefore closely related to the inhabitants of the Indonesian archipelago, Malaysia, the Philippines, and Oceania on a cultural and linguistic level.
In the west of the island, close to the community of Cekik, stone tools from this period have been discovered. Nine Hindu sects, including Pasupata, Bhairawa, Siwa Shidanta, Waisnawa, Bodha, Brahma, Resi, Sora, and Ganapatya, were active in prehistoric Bali. Every group regarded a certain god as its own personal Godhead.
Beginning in the first century AD, Hindu, Chinese, and especially Indian cultures had a significant impact on Balinese culture. The Blanjong pillar inscription, which was written by Sri Kesari Warmadewa in 914 AD and mentions "Walidwipa," is one of many inscriptions from which the word Bali Dwipa ("Bali island") has been deciphered.
Subak, a sophisticated irrigation system designed to grow rice, was created around this period. This time period is the source of some religious and cultural traditions that are still practiced today. In 1343, a Balinese colony was established on eastern Java by the Hindu Majapahit Empire (1293–1520 AD). In the 15th century, philosophers, artists, priests, and musicians fled from Java to Bali as the empire began to fall.
When a Portuguese ship capsized off the Bukit peninsula, leaving a few Portuguese in Dewa Agung's service, it is considered that the first Europeans arrived in Bali. The Dutch East India Company was founded in 1602, two and a half centuries after the arrival of the Dutch explorer Cornelis de Houtman in Bali, setting the stage for colonial rule. During the second half of the nineteenth century, Dutch control spread throughout the Indonesian archipelago (see Dutch East Indies).
When the Dutch set up rival Balinese kingdoms against one another on the north shore of the island in the 1840s, political and economic control over Bali was established by the Dutch. The Dutch used conflicts between Balinese kingdoms in the island's south in the late 1890s to expand their influence.
The thousands of members of the royal family and their supporters responded to the Dutch's massive naval and ground assaults on the Sanur region in 1906 by launching a puerile Puputan defensive offensive in an effort to avoid the humiliation of capitulation. An estimated 1,000 Balinese marched to their deaths in opposition to the invaders despite Dutch appeals for submission.
In response to a Dutch invasion in Klungkung during the Dutch intervention in Bali (1908), a similar slaughter took place. Following that, the island came under the official administration of the Dutch governors, although local autonomy over religion and culture mostly remained unaltered. The Dutch never cemented their dominance over Bali as thoroughly as they did in other regions of Indonesia, such as Java and Maluku.
Westerners initially began visiting Bali in the 1930s because to the work of anthropologists Margaret Mead and Gregory Bateson, artists Miguel Covarrubias and Walter Spies, musicologist Colin McPhee, and others who portrayed Bali as "an idyllic place of aesthetes at one with themselves and nature."
Bali was occupied by Imperial Japan during World War II. The Dutch East Indies Campaign did not initially have Bali Island as an objective, but when Borneo's airfields became impassable owing to torrential rains, the Imperial Japanese Army decided to capture Bali, which did not experience similar weather.
The Royal Netherlands East Indies Army (KNIL) did not station regular troops on the island. There was only one Native Auxiliary Corps Prajoda (Korps Prajoda), which was commanded by KNIL Lieutenant Colonel W.P. Roodenburg and had roughly 600 native soldiers and some Dutch KNIL officials. The Japanese army landed close to the village of Senoer on February 19, 1942. (Sanur). The island was taken over quite swiftly.
A Balinese military officer named I Gusti Ngurah Rai established a Balinese "freedom army" during the Japanese occupation. However, Japanese rule was only marginally superior to Dutch rule due to the lack of institutional improvements since the time of the Dutch occupation and the severity of war requisitions. The Dutch swiftly returned to Indonesia, including Bali, to reestablish their pre-war colonial authority following Japan's Pacific surrender in August 1945.
The Balinese insurgents, now armed with Japanese firearms, resisted this. The Battle of Marga took place in Tabanan, in the heart of Bali, on November 20, 1946. At Marga Rana in central Bali, Colonel I Gusti Ngurah Rai, then 29 years old, finally marshaled his troops before launching a suicide attack on the highly armed Dutch.
The final strand of Balinese military resistance was severed when the Balinese battalion was completely destroyed. A rival state to the newly established Republic of Indonesia, which was declared and led by Soekarno and Hatta, the Dutch established Bali as one of the 13 administrative districts of the newly proclaimed State of East Indonesia in 1946. Bali was a part of the "Republic of the United States of Indonesia" when it gained independence from the Netherlands on December 29, 1949.
One of the most widely used web browsers, Google Chrome, will cease operations for anyone still running Microsoft's Windows 7 and Windows 8 operating systems. Apparently, the corporation announced its choice in a blog post on Monday of last week.
"Windows 7 and Windows 8/8.1 support is ending. The last Chrome version to support these versions of Windows is Chrome 110, which is tentatively scheduled for release on February 7th, 2023, according to the blog post.
"We recommend you to upgrade to a supported Windows version if you are currently using Windows 7 or Windows 8/8.1 so that you may continue to receive the most recent security updates and Chrome features," it continued.
Notably, Chrome's newest version, known as "Chrome 110," will be tentatively released in February of next year. The web browser will be accessible to users of the two operating systems, but they won't get any security updates or further support.
Users may be more vulnerable to hacking if there are no security upgrades since hackers frequently leverage security gaps in outdated software to carry out their scams. Furthermore, the instability of the aforementioned OS's may make the issue worse because Microsoft has also stopped supporting them.
The choice made by Chrome is consistent with the position stated by Microsoft. The Redmond-based business is rumored to have also made plans to stop providing support for Windows 7 and Windows 8.1 users on January 10, 2023.
"Microsoft will stop offering technical support and security updates for Windows 8.1 on January 10, 2023. The best choice is to switch to a new PC that can run Windows 11 while you might be able to upgrade your Windows 8.1 device to a more recent version of Windows "read a statement made public by the business.
Millions of Windows users who are still using the outdated systems will now need to upgrade, or else run the risk of making themselves vulnerable to hackers.
Since its first release, Google Ads has assisted countless companies and organizations in honing their marketing approaches. However, do you know what Google Ads are? It's better to start late than never, so don't worry if you haven't gotten in touch with it yet. Therefore, let's examine Google Ads' definition and role in internet advertising.
The Meaning of Google Advertisements
A program called Google Ads, sometimes referred to as Google Adwords, enables marketers to display content and/or links to their websites. This data and links will appear on the Google Search Engine Ranking Page (SERP).
In fact, Google Ads charges a fee for their strong services. With Google Ads, advertisers are obligated to pay based on the cost and the quantity of clicks on each and every ad that is displayed.
As a result, if we set a daily advertising budget of Rp. 100,000 and assume that each click costs Rp. 1,000, our budget will be exhausted after 100 clicks.
Advantages of Google Ads
Digital marketers today frequently employ Google Ads for a variety of objectives, including growing a business's website's audience and boosting sales. Many people use Google Ads as their go-to strategy to promote their online business success. The following are some of the features and advantages of Google Ads:
1. Use a specific target audience when advertising
When we employ Google Ads to gather leads from a more focused audience, it is sufficiently dependable. This is because there are numerous types of the matrix that can be used to develop a campaign with a more narrowly focused audience. Therefore, the likelihood of success is increasing if advertising can correctly plan and carry out their campaigns.
2. Adaptable Marketing
Google Ads has been a source of revenue for small businesses, expanding businesses, and big businesses alike. Because it works with commonly used programs like Microsoft Excel, Google Ads is versatile in how it is used.
Both the price and the software are subject to this flexibility. The daily budget for advertisements can be specified by advertisers using Google Ads. Furthermore, the budget expenditures for a keyword can be changed, including the minimum and maximum amount. In order to maximize their return on investment, advertisers might set a realistic ad budget.
3. Highest ROI
In digital marketing, ROI (return on investment) is a crucial component. Every digital marketing campaign aims to generate as many returns on investment as possible. The good news is that ROI can be optimized with Google Ads thanks to data analysis offered by Google Ads.
Therefore, it is advised that every digital marketer conduct an experiment and data analysis. Find the campaign with the highest return on investment, and stop the unsuccessful one. Thus, it is possible to maximize ROI by making good use of the advertising money.
4. Recognize Your Audience
The campaign's primary aim, the target audience, needs to receive more consideration. It is crucial to understand a variety of information about the target audience, including their age, gender, location, hobbies, likes, whatever they are interested in, and a host of other factors.
To learn more specifically what individuals are seeking for now or in the future, the organization has in the past distributed a random questionnaire for online completion. The present questionnaire approach has a flaw in that it requires time, money, and effort.
Hallo Apa Kabar
Bagaimana kabar anda semua, sudah bertahun-tahun saya tidak mengunjungi blog saya, blog saya sudah terabaikan. Hehehehe... Dan sekarang saya mau mulai kembali tapi sekarang saya bingung topik apa yang bagusnya diposting??? Mungkin anda semua bisa membantu??? ( Mohon tulis di komentar jika ada tema yang mau di bahas) terimakasih...
Pendidikan
merupakan kunci kemajuan dan peradaban suatu bangsa. Semakin baik kualitas
pedidikan yang diselenggarakan oleh suatu masyarakat atau bangsa, maka akan
diikuti dengan semakin baik pula kualitas sumber daya masyarakat atau bangsa
tersebut yang kemudian melahirkan peradaban bernilai tinggi yang dibangun di
atas fondasi ilmu pengetahuan. Pendidikan senantiasa menjawab kebutuhan
masyarakat dan tantangan yang muncul di kalangan masyarakat, sebagai konsekuensi
dari suatu perubahan melalui pendidikan dan pengajaran di sekolah maupun non
formal.[1]
Dalam undang-undang Sisdiknas No 20 Tahun 2003, disebutkan bahwa:[2]
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.
Dalam hal ini, sekolah sebagai komunitas
dan sebagai lembaga pendidikan yang besar jumlahnya dan luas penyebarannya di
berbagai pelosok tanah air telah memberikan saham dalam pembentukan manusia
yang religius.[3]
Pendidikan agama islam sebagai salah satu cabang ilmu, ia menempati posisi
strategis dalam membentuk kepribadian manusia. Betapa tidak, dengan pendidikan
agama islam, manusia dapat menemukan hal yang mesti dilakukan untuk memperoleh
kedamaian hidup sekaligus akan menemukan berbagai hal yang sama sekali tidak
diinginkan oleh agama Islam. Tujuan pendidikan Islam adalah terbentuknya insan
kamil yang didalamnya memiliki wawasan kaffah agar mampu menjalankan
tugas-tugas kehambaan, kekhalifahan, dan pewaris Nabi.[4]
Adapun pembelajaran Pendidikan agama
islam pada prinsipnya bertujuan untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, dan
penghayatan nilai-nilai keagamaan (keislaman), serta pemahamannya. Sehingga
kemudian diharapkan dapat menjadi muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah
swt. serta berakhlaq mulia., dalam arti memiliki kesadaran moral yang tinggi
dalam kehidupan pribadi dan masyarakat, serta dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara.
Dalam proses pembelajaran Pendidikan
agama islam, pemilihan dan penggunaan metode dan tehnik seorang pengajar harus
tepat sehingga pembelajaran Pendidikan agama islam dapat berhasil dan
menghasilkan out put yang berkompeten dalam bidang Pendidikan agama islam.
Keberhasilan tersebut tentunya terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi dalam
pembelajaran Pendidikan agama islam, yang akan kami bahas dalam makalah ini.
B.Rumusan
Masalah
1.Apakah
pengertian Pembelajaran?
2.Apakah
faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran pendidikan agama islam?
BAB II
PEMBAHASAN
1.Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran
adalah kegiatan yang bertujuan, yaitu membelajarkan siswa.[5]
Pembelajaran terkait dengan bagaimana (how do) membelajarkan siswa atau
bagaimana membuat siswa dapat belajar dengan mudah dan terdorong oleh
kemauannya sendiri untuk mempelajari apa (what to) yang teraktualisasikan dalam
kurikulum sebagai kebutuhan (needs) peserta didik.[6]
Bagne dalam
Abdul Rachman mengungkapkan bahwa pembelajaran diartikan sebagai acara dari
peristiwa eksternal yang dirancang oleh guru guna mendukung terjadinya kegiatan
belajar yang dilakukan siswa. Kegiatan pembelajaran lebih menekankan kepada
semua peristiwa yang dapat berpengaruh secara langsung kepada efektivitas belajar
siswa, dengan kata lain pembelajaran adalah upaya guru agar terjadi peristiwa
belajar yang dilakukan siswa.[7]
Pembelajaran
berasal dari kata “belajar” yang berarti adanya perubahan pada diri seseorang.[8]
Perubahan yang dimaksudkan adalah perubahan pada segi Kognitif, Afektif, dan psikomotorik.[9] Dengan demikian, pembelajaran adalah proses yang dirancang untuk mengubah diri
seseorang, baik dari segi kognitif, afektif,
maupun psikomotorik. Pembelajaran adalah kegiatan guru secara
terprogram dalam desain intruksional, untuk membuat belajar secara aktif dan kreatif, yang menekankan pada
penyediaan sumber belajar untuk
peserta didik agar mencapai tujuan yang diinginkan.
Pembelajaran
adalah sebuah usaha yang dilakukan untuk memudahkan proses internal yang
berlangsung ketika seseorang belajar, serta upaya untuk mewujudkan pembelajaran
yang sesuai dengan kemampuan peserta didik agar mencapendidikan agama islam
tujuan tertentu.
Makna
pembelajaran secara konstektual menurut diknas adalah konsep belajar yang
membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia
nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya
dengan perencanaan dalam kehidupan mereka sehari-hari[10].
Tujuan
pembelajaran dalam desain instruksional dirumuskan oleh berdasarkan
pertimbangan-pertimbangan tertentu. Tujuan pembelajaran tersebut juga merupakan
sasaran belajar bagi siswa menurut pandangan dan rumusan guru.[11]
Pembelajaran
yang menimbulkan interaksi belajar-mengajar antara guru-siswa yang mendorong
perilaku belajar siswa. Dan kunci terjadinya perilaku belajar adalah siswa yang
merupakan proses belajar yang dialami dan dihayati dan sekaligus merupakan
aktivitas belajar tentang bahan belajar dan sumber belajar belajar di
lingkungannya.[12]
Pola umum kegiatan pengajaran adalah terjadinya interaksi antara guru
dengan anak didik dengan bahan pelajaran sebagai perantaranya. Guru yang
mengajar, anak didik yang belajar.. Gaya mengajar guru mempengaruhi gaya
belajar anak didik.
Ada 3 aspek yang dapat dilihat dari kegiatan pengajaran untuk keberhasilan
belajar mengajar yaitu:[13]
a.Gaya mengajar guru
1)Gaya mengajar klasik,
2)Gaya mengajar teknologis.
3)Gaya mengajar personalisasi dan
4)Gaya mengajar interaksional
b.Pendekatan guru
1)Pendekatan individual
Guru
berusaha memahami anak didik dengan segala persamaan dan perbedaannya dengan melihat peserta didik dengan melakukan
pendekatan dan memahami kepribadian masing-masing karena mereka mempunyai
kepribadian masing-masing dan tidak sama antara saru dengan yang lainnya.
Sehingga pendekatan sangat penting sekali karena untuk mengetahui perkembangan
peserta didiknya.
2)Pendekatan kelompok
Berusaha
memahami anak didik sebagai mahluk sosial. Perpaduan kedua pendekatan ini akan
menghasilkan hasil belajar mengajar yang lebih baik. Sehingga disini pengajar juga memberikan
pelajaran bagi siswa untuk saling menghargai antar sesama dan untuk dapat
bersosial dengan baik dalam kehidupannya sehari-hari.
2.Faktor-Faktor Pembelajaran Pendidikan
agama islam
Hasil belajar yang dicapendidikan agama islam siswa
dipengaruhi oleh dua faktor utama yakni faktor dalam diri siswa itu sendiri dan
faktor yang datang dari luar diri siswa dan dangat besar sekali pengaruhnya
yakni faktor lingkungan. Faktor yang ada pada diri siswa adalah kemampuan yang
ada pada dirinya sendiri, dan sangat besar sekali pengaruhnya terhadap hasil
belajar yang dicapai. Seperi apa yang telah dikemukakan oleh Clark bahwa hasil
belajar sswa di sekolah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30%
dipengaruhi oleh lingkungan.[14]
Ada tiga faktor yang mempengaruhi
pembelajaran pendidikan agama islam yang akan kami bahas dalam
makalah ini. Di mana ketiga faktor tersebut saling terkait
satu dengan yang lainnya sehingga kehilangan salah satu dari faktor ini bisa menyebabkan tidak tercapainya pembelajaran pendidikan agama islam yang berhasil. Ketiga faktor tersebut antara lain:[15]
1.Kondisi pembelajaran pendidikan agama islam
Kondisi
pembelajaran pendidikan agama islam dapat di klasifikasikan menjadi :
a.Tujuan
pembelajaran pendidikan agama islam
Tujuan pembelajaran menggambarkan bentuk tingkah laku
atau kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki siswa setelah proses
pembelajaran.Rumusan tujuan pembelajaran dapat dibuat dalam berbagai macam cara.
Seringkali terjadi, rumusan itu menggambarkan apa yang akan dilakukan guru
dalam proses pembelajaran. Jika rumusan semacam ini dibuat, tidak memberi
tuntutan kepada siswa untuk belajar sehingga memperoleh hasil tertentu. Dengan
singkat dapat dikemukakan bahwa rumusan tujuan harus menggambarkan bentuk hasil
belajar yang ingin dicapai siswa melalui proses
pembelajaran dilaksanakan.
Di tinjau dari aspek tujuan pendidikan agama islam yang
akan dicapai adalah mengantarkan peserta didik mampu memilih Al-Qur’an sebagai
pedoman hidup (kognitif), mampu menghargai Al-Qur’an sebagai pilihannya yang
paling benar (afektif), serta mampu bertindak dan mengamalkan pilihannya (Al-Qur’an
sebagai pedoman hidup) dalam kehidupan sehari-hari (psikomotorik).
Tujuan
pembelajaran ini bisa bersifat umum, umum-khusus dan khusus. Tujuan pendidikan
agama islam yang bersifat umum tercermin dalam GBPP mata pelajaran pendidikan
agama islam, yaitu : “meningkatkan keimanan, penghayatan, dan pengamalan siswa
terhadap agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada
Allah serta beragkhlak mulia dalamkehidupan pribadi, masyarakat, berbangsa dan
bernegara serta untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi”(GBPP
1994). Tujuan dalam kontinum umum-khusus misalnya siswa memiliki kesadaran dan
bertanggung jawab terhadap lingkungan serta terbiasa menampilkan perilaku
agamis dalam kehidupansehari-hari. Sedangkan tujuan yang lebih khusus misalnya ;
Peserta didik dapat memilih lingkungan yang bersih, sehat,
indah dan agamisPeserta didik dapat menghargai
lingkungan yang sehat, indah, agamis dan Peserta didik dapat berperilaku
menjaga lingkungan yang sehat, indah, dan agamis dalam kehidupan sehari-hari.
Tujuan pendidikan jangka panjang yang dirumuskan
sebagai pendekatan diri kepada Allah, dapat dicapai dengan melaksanakan ibadah
wajib dan sunnah serta mengkaji ilmu-ilmu fardhu ‘ain seperti ilmu syariah.
Sementara, orang-orang yang hanya menekuni ilmu fardhu kifayat sehingga
memperoleh profesi-profesi tertentu dan akhirnya mampu melaksanakan tugas-tugas
keduniaan dengan hasil yang optimal sekalipun, tetapi tidak disertai dengan
hidayah al-din, maka orang tersebut tidak akan semakin dekat dengan Allah.
Tujuan pendidikan jangka pendek menurut al-Ghazali
adalah diraihnya profesi manusia sesuai dengan bakat dan kemampuannya dengan
mengembangkan ilmu pengetahuan yang fardhu ‘ain dan fardhu kifayat. Masalah
kemuliaan duniawi bukanlah tujuan dasar dari seseorang yang melibatkan diri
dalam dunia pendidikan. Seorang penuntut ilmu seperti siswa, mahasiswa, guru,
atau dosen, akan memperoleh derajat, pangkat, dan segala macam kemuliaan lain
yang berupa pujian, kepopularitasan, dan sanjungan manakala ia benar-benar
mempunyai motivasi hendak meningkatkan kualitas dirinya melalui ilmu
pengetahuan untuk diamalkan. Sebab itulah, al-Ghazali menegaskan bahwa langkah
awal seseorang dalam proses pembelajaran adalah untuk menyucikan jiwa dari
kerendahan budi dan sifat-sifat tercela, dan motivasi pertama adalah untuk
menghidupkan syariat dan misi Rasulullah.
Dari beberapa pendapat tentang tujuan pendidikan Islam
diatas, kiranya bisa diambil kesimpulan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah
melahirkan manusia paripurna, terbaik, insan kamil atau manusia yang bertaqwa
yaitu sosok manusia yang memahami peran dan fungsinya dalam kehidupan serta
mendasarkan semuanya pada ajaran dan hukum Allah juga Rasul-Nya.
b.Karakteristik
bidang studi pendidikan agama islam
Aspek-aspek suatu bidang study yang terbangun dalam
struktur isi dan konstruk atau tipe isi bidang study pendidikan agama islam berupa
fakta, hukum atau dalil, konsep, prinsip atau kaidah, prosedur dan keimanan
yang menyajikan kebenaran Al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia. Serta
menanamkan jiwa dengan akhlakul karimah sebagai landasan hidupnya dan dengan
tujuan agar siswa mampu berlaku sopan dan santun terhadap sesama dalam bergaul.
Bidang studi yang ada dalam pendidikan agama islam diantaranya
adalah, akidah dan akhlak yakni mempelajari tentang keesan Allah serta
mengajari akhlak-akhlak mahmudah, dengan tujuan untuk memberikan binaan
keyakinan tentang ketauhidan atau keEsaan Allah merupakan asal-usul dan tujuan
hidup manusia, dan mengarahkan siswa agar memiliki akhlakul karimah dalam
kehidupan sehari-hari dengan siapa pun dan dimanapun. Sejarah kebudayaan Islam
yakni menyiapkan peserta didik agar mempunyai pemahaman terhadap apa yang telah
diperbuat oleh orang-orang muslim sebagai katalisator, dan membawa perubahan
sesuai dengan tahapan kehidupan mereka. Qur’an Hadist yakni pelajaran yang
mempelajari ayat-ayat alqur’an dan hadist dengan tujuan agar peserta mampu
membaca dengan fasih yang sesuai dengan tajwidnya. Fiqh yakni mempelajari
tentang hukum-hukum islam.
c.Kendala
pembelajaran
Namanya kendala tentunya pasti ada misalnya ;
keterbatasan sumber belajar yang ada, keterbatasan alokasi waktu dan
keterbatasan dana yang tersedia. Sehingga ini dapat menghambat dalam proses
pembelajaran. Kendala yang paling utama yang dihadapi pembelajaran pendidikan
agama islam adalah proses pembelajarannya, karena pendidikan agama islam masuk
dalam mata pelajaran sehingga cara pembelajarannya hanya transfer of knowledge, dan penerapannya sangat kurang sekali,
sehingga siswa yang mendapat pelajaran pendidikan agama islam namun tingkah
lakunya tidak mencerminkan Pendidikan agama islamnya, ini disebabkan karena
kurangnya pantauan dari orang tua serta peran guru dalam proses
pembelajarannya.
d.Karakteristik peserta didik
Adalah
kualitas perseorangan peserta didik memiliki karakteristik yang berbeda
seperti, bakat gaya belajar, perkembangan moral, perkembangan kognitif, social
budaya, dan sebagainya.
Karakteristik peserta didik adalah kualitas
perseorangan peserta didik, seperti bakat, kemampuan awal yang dimiliki,
motivasi belajar dan kemungkinan hasil belajar yang akan dicapendidikan agama
islam.
Tujuan dan karakteristik bidang studi dihipotesiskan
memiliki pengaruh utama pada pemilihan strategi pengorganisasiam isi
pembelajaran. Kendala dan karakteristik bidang studi mempengaruhipemilihan
strategi pemilihan penyampendidikan agama islaman, dan karakteristik peserta
didik akan mempengaruhi strategi pengelolaan pembelajaran. Namun perlu diingat,
pada tingkat tertentu, dimungkinkan suatu kondisi pembelajaran akan
mempengaruhi setiap komponen pemilihan metode pembelajaran seperti
karakteristik siswa dapat mempengaruhi pemilihan strategi pengorganisasian isi dan strategi penyampaian agama islam.[16]
2.Metode pembelajaran pendidikan agama islam
Metode
pembelajaran dapat diklasifikasikan menjadi :
a.Strategi pengorganisasian,
Strategi pengorganisasian adalah suatu metode
untuk mengorganisasi isi bidang studi pendidikan agama islam yang pilih untuk pembelajaran. Pengorganisasian isi
bidang studi mengacu pada kegiatan
pemilihan isi, penataan isi, pembuatan diagram, skema dan sebagainya.
b.Strategi penyampaian isi pembelajaran,
Strategi penyampaianisi pembelajaranpendidikan agama islam adalah metode-metode penyampaian agama islam pembelajaran pendidikan agama islam yang dikembangkan untukmembuat siswa dapat merespon dan meneriama pelajaran
pendidikan agama islam dengan mudah, cepat, dan menyenangkan. Strategi penyampaianisi pembelajaran ini berfungsi sebagai penyampaian isi pembelajaran kepada peserta didik dan
menyediakan informasi yang diperlukan peserta didik untuk menampilkan
unjuk kerja (hasil kerja).
Ada tiga komponen dalam strategi penyampaian ini, yaitu:
1.Mediapembelajaran
2.Interaksi media pembelajaran
dengan peserta didik
3.Pola atau bentuk belajar
mengajar.
Pemilihan media pembelajaran pendidikan agama islam sekurang-kurangnya
dapat mempertimbangkan beberapa hal yakni : kecermatan representative, tingkat
interaktif yang mampu ditimbulkan, tingkat kemempuan khusus yang
dimilikinya. Tingkat motivasi yang mampu ditimbulkannya dan tingkat biaya yang
diperlukannya. Interaksi peserta didik dengan media berarti bagaimana
peran media pembelajaran dalam meragsang kegiatan belajar peserta didik. Setiap
media pembelajaran pendidikan agama islam yang direncanakan hendaknya dipilih,
ditetapkan dan dikembangkan sehingga dapat meimbulkan interaksi peserta didik
dengan pesan-pesan yang di bawa media pembelajaran.
c.Strategi pengelolaan
pembelajaran.
Strategi
pengelolaan pembelajaran adalah metode untuk menata interaksi antara peserta
didik dengan komponen-komponen metode pembelajaran lain, seperti
pengorganisasian dan penyampaian isi pembelajaran. Strategi
pembelajaran dapat ditinjau dari segi ilmu, seni dan atau keterampilan yang
digunakan pendidikan dalam upaya membantu (memotivasi, membimbing,
membelajarkan, memfasilitasi) peserta didik sehingga
mereka.
Pemilihan metode pembelajaran pendidikan agama islam sekurang-kurangnya
dapat mempertimbangkan lima hal, yaitu:
1.Tingkat kecermatan
representasi
2.Tingkat
interaktif yang mampu ditimbulkannya
3.Tingkat
kemampuan khusus yang dimilikinya
4.Tingkat motivasi
yang mampu ditimbulkannya
5.Tingkat biaya
yang diperlukannya.
3.Hasil
pembelajaran pendidikan agama islam
Dalam hasil pembelajaran pendidikan agama islam adalah
mencakup semua akibat yang dapat dijadikan indicator tentang nilai dari
penggunaan metode pembelajaran pendidikan agama islam dibawah kondisi
pembelajaran yang berbeda. Hasil pembelajaran pendidikan agama islam dapat berupa
hasil nyata (actual out-come)dan hasil yang di inginkan (desired out-come). Actual
out-come adalah hasil belajar pendidikan agama islam yang dicapai peserta didik secara nyata karena digunakannya suatu
metode pembelajaran pendidikan agama islam tertentu yang dikembangkan sesuai
dengan kondisi yang ada. Sedangkan desired
out-come merupakan tujuan yang ingin dicapai yang biasanya sering
memepengaruhi keputusan perancang pembelajaran pendidikan
agama islam dalam melakukan pilihan suatu metode pembelajaran yang paling baik
untuk digunakan sesuai dengan kondisi pembelajaran yang ada.
Sedangkan
indikator keberhasilan pembelajaran pendidikan agama islam dapat
di klasifikasikan menjadi tiga yaitu :
a.Keefektifan
Pembelajaran
dikatakan efektif jika pembelajaran tersebut mampu memberikan atau menambah
informasi atau pengetahuan baru bagi siswa. Adapun keefektifan pembelajaran dapat diukur dengan criteria :
1.Kecermatan penguasaan kemampuan atau perilaku yang
dipelajari
2.Kecepatan unjuk kerja sebagai bentuk hasil belajar
3.Kesesuaian dengan prosedur kegiatan belajar yang harus
ditempuh
4.Kuantitas unjuk kerja sebagai bentuk hasil belajar
5.Kualitas hasil akhir yang dapat dicapendidikan agama
islam
6.Tingkat alih belajar
7.Tingkat retensi belajar
b.Efisiensi
Pembelajaran yang efisien adalah pembelajaran yang
menyenangkan, menggairahkan dan mampu memberikan motivasi bagi siswa dalam
belajar, sehingga pendidik harus bisa menciptakan sesuatu yang baru dalam
pembelajaran agar siswa tidak merasa jenuh dalam pembelajaran.
c.Daya Tarik
Daya
tarik yang dimaksud dalam hal ini adalah pembelajaran itu diukur dengan
mengamati kecendurungan peserta didik untuk berkeinginan terus belajar. Dan serta harus dimotivasi agar peserta didik
dapat gemar dengan pendidikan agama islam. Karena akhir-akhir ini pendidikan
agama islam dianggap kuno sehingga minat untuk belajar sangatlah kurang dan
lebih memilih dengan pelajaran-pelajaran eksak yang dianggap penting dan populer
saat ini dan mengabaikan pelajaran pendidikan agama islam.
BAB III
KESIMPULAN
Dalam proses pembelajaran seorang guru sebagai
pengajar harus pandai-pandai dalam mengambil langkah agar proses pembelajaran
dapat terlaksana dengan baik dan tercapai tujuan pendidikan. Dan juga
dipengaruhi beberapa faktor yakni; kondisi pembelajaran agama, metode
pembelajaran pendidikan agama, dan hasil pembelajaran pendidikan agama, dimana
ketiga faktor tersebut terikat satu dengan yang lainnya. Hal tersebut diatas
dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
[1] Hujair Sananki, Paradigma Pendidikan Islam : Membangun masyarakat
Modern. (Yogyakarta : Safarina Insani Press,2003), 3.
[2] Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas. (Bandung : Citra Umbara, 2006), 72.
[3]Ahmad Tafsir, Ilmu
pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2000), 191.
[4] Abdul Mujib dan jusuf Mudzakkar,
Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta :
Kencana Prenada Media, 2006), 83.
[5] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran : Berorientasi Standar
Proses Pendidikan (Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2007), 49.
[6] Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2001),
145
[7] Abdur Rachman Shaleh, Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa (Jakarta
: Raja Gratindo Persada, 2004), 217.
[8]Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta :
Balai Pustaka,2001), 232.