BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Pendidikan
merupakan kunci kemajuan dan peradaban suatu bangsa. Semakin baik kualitas
pedidikan yang diselenggarakan oleh suatu masyarakat atau bangsa, maka akan
diikuti dengan semakin baik pula kualitas sumber daya masyarakat atau bangsa
tersebut yang kemudian melahirkan peradaban bernilai tinggi yang dibangun di
atas fondasi ilmu pengetahuan. Pendidikan senantiasa menjawab kebutuhan
masyarakat dan tantangan yang muncul di kalangan masyarakat, sebagai konsekuensi
dari suatu perubahan melalui pendidikan dan pengajaran di sekolah maupun non
formal.[1]
Dalam undang-undang Sisdiknas No 20 Tahun 2003, disebutkan bahwa:[2]
“Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan
potensi dirinya untuk memiliki kekuatan
spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia,
serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara”.
Dalam hal ini, sekolah sebagai komunitas
dan sebagai lembaga pendidikan yang besar jumlahnya dan luas penyebarannya di
berbagai pelosok tanah air telah memberikan saham dalam pembentukan manusia
yang religius.[3]
Pendidikan agama islam sebagai salah satu cabang ilmu, ia menempati posisi
strategis dalam membentuk kepribadian manusia. Betapa tidak, dengan pendidikan
agama islam, manusia dapat menemukan hal yang mesti dilakukan untuk memperoleh
kedamaian hidup sekaligus akan menemukan berbagai hal yang sama sekali tidak
diinginkan oleh agama Islam. Tujuan pendidikan Islam adalah terbentuknya insan
kamil yang didalamnya memiliki wawasan kaffah agar mampu menjalankan
tugas-tugas kehambaan, kekhalifahan, dan pewaris Nabi.[4]
Adapun pembelajaran Pendidikan agama
islam pada prinsipnya bertujuan untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, dan
penghayatan nilai-nilai keagamaan (keislaman), serta pemahamannya. Sehingga
kemudian diharapkan dapat menjadi muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah
swt. serta berakhlaq mulia., dalam arti memiliki kesadaran moral yang tinggi
dalam kehidupan pribadi dan masyarakat, serta dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara.
Dalam proses pembelajaran Pendidikan
agama islam, pemilihan dan penggunaan metode dan tehnik seorang pengajar harus
tepat sehingga pembelajaran Pendidikan agama islam dapat berhasil dan
menghasilkan out put yang berkompeten dalam bidang Pendidikan agama islam.
Keberhasilan tersebut tentunya terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi dalam
pembelajaran Pendidikan agama islam, yang akan kami bahas dalam makalah ini.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apakah
pengertian Pembelajaran?
2. Apakah
faktor-faktor yang mempengaruhi pembelajaran pendidikan agama islam?
BAB II
PEMBAHASAN
1. Pengertian Pembelajaran
Pembelajaran
adalah kegiatan yang bertujuan, yaitu membelajarkan siswa.[5]
Pembelajaran terkait dengan bagaimana (how do) membelajarkan siswa atau
bagaimana membuat siswa dapat belajar dengan mudah dan terdorong oleh
kemauannya sendiri untuk mempelajari apa (what to) yang teraktualisasikan dalam
kurikulum sebagai kebutuhan (needs) peserta didik.[6]
Bagne dalam
Abdul Rachman mengungkapkan bahwa pembelajaran diartikan sebagai acara dari
peristiwa eksternal yang dirancang oleh guru guna mendukung terjadinya kegiatan
belajar yang dilakukan siswa. Kegiatan pembelajaran lebih menekankan kepada
semua peristiwa yang dapat berpengaruh secara langsung kepada efektivitas belajar
siswa, dengan kata lain pembelajaran adalah upaya guru agar terjadi peristiwa
belajar yang dilakukan siswa.[7]
Pembelajaran
berasal dari kata “belajar” yang berarti adanya perubahan pada diri seseorang.[8]
Perubahan yang dimaksudkan adalah perubahan pada segi Kognitif, Afektif, dan psikomotorik.[9] Dengan demikian, pembelajaran adalah proses yang dirancang untuk mengubah diri
seseorang, baik dari segi kognitif, afektif,
maupun psikomotorik. Pembelajaran adalah kegiatan guru secara
terprogram dalam desain intruksional, untuk membuat belajar secara aktif dan kreatif, yang menekankan pada
penyediaan sumber belajar untuk
peserta didik agar mencapai tujuan yang diinginkan.
Pembelajaran
adalah sebuah usaha yang dilakukan untuk memudahkan proses internal yang
berlangsung ketika seseorang belajar, serta upaya untuk mewujudkan pembelajaran
yang sesuai dengan kemampuan peserta didik agar mencapendidikan agama islam
tujuan tertentu.
Makna
pembelajaran secara konstektual menurut diknas adalah konsep belajar yang
membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia
nyata dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya
dengan perencanaan dalam kehidupan mereka sehari-hari[10].
Tujuan
pembelajaran dalam desain instruksional dirumuskan oleh berdasarkan
pertimbangan-pertimbangan tertentu. Tujuan pembelajaran tersebut juga merupakan
sasaran belajar bagi siswa menurut pandangan dan rumusan guru.[11]
Pembelajaran
yang menimbulkan interaksi belajar-mengajar antara guru-siswa yang mendorong
perilaku belajar siswa. Dan kunci terjadinya perilaku belajar adalah siswa yang
merupakan proses belajar yang dialami dan dihayati dan sekaligus merupakan
aktivitas belajar tentang bahan belajar dan sumber belajar belajar di
lingkungannya.[12]
Pola umum kegiatan pengajaran adalah terjadinya interaksi antara guru
dengan anak didik dengan bahan pelajaran sebagai perantaranya. Guru yang
mengajar, anak didik yang belajar.. Gaya mengajar guru mempengaruhi gaya
belajar anak didik.
Ada 3 aspek yang dapat dilihat dari kegiatan pengajaran untuk keberhasilan
belajar mengajar yaitu:[13]
a.
Gaya mengajar guru
1)
Gaya mengajar klasik,
2)
Gaya mengajar teknologis.
3)
Gaya mengajar personalisasi dan
4)
Gaya mengajar interaksional
b.
Pendekatan guru
1)
Pendekatan individual
Guru
berusaha memahami anak didik dengan segala persamaan dan perbedaannya dengan melihat peserta didik dengan melakukan
pendekatan dan memahami kepribadian masing-masing karena mereka mempunyai
kepribadian masing-masing dan tidak sama antara saru dengan yang lainnya.
Sehingga pendekatan sangat penting sekali karena untuk mengetahui perkembangan
peserta didiknya.
2)
Pendekatan kelompok
Berusaha
memahami anak didik sebagai mahluk sosial. Perpaduan kedua pendekatan ini akan
menghasilkan hasil belajar mengajar yang lebih baik. Sehingga disini pengajar juga memberikan
pelajaran bagi siswa untuk saling menghargai antar sesama dan untuk dapat
bersosial dengan baik dalam kehidupannya sehari-hari.
2. Faktor-Faktor Pembelajaran Pendidikan
agama islam
Hasil belajar yang dicapendidikan agama islam siswa
dipengaruhi oleh dua faktor utama yakni faktor dalam diri siswa itu sendiri dan
faktor yang datang dari luar diri siswa dan dangat besar sekali pengaruhnya
yakni faktor lingkungan. Faktor yang ada pada diri siswa adalah kemampuan yang
ada pada dirinya sendiri, dan sangat besar sekali pengaruhnya terhadap hasil
belajar yang dicapai. Seperi apa yang telah dikemukakan oleh Clark bahwa hasil
belajar sswa di sekolah 70% dipengaruhi oleh kemampuan siswa dan 30%
dipengaruhi oleh lingkungan.[14]
Ada tiga faktor yang mempengaruhi
pembelajaran pendidikan agama islam yang akan kami bahas dalam
makalah ini. Di mana ketiga faktor tersebut saling terkait
satu dengan yang lainnya sehingga kehilangan salah satu dari faktor ini bisa menyebabkan tidak tercapainya pembelajaran pendidikan agama islam yang berhasil. Ketiga faktor tersebut antara lain:[15]
1.
Kondisi pembelajaran pendidikan agama islam
Kondisi
pembelajaran pendidikan agama islam dapat di klasifikasikan menjadi :
a.
Tujuan
pembelajaran pendidikan agama islam
Tujuan pembelajaran menggambarkan bentuk tingkah laku
atau kemampuan yang diharapkan dapat dimiliki siswa setelah proses
pembelajaran.Rumusan tujuan pembelajaran dapat dibuat dalam berbagai macam cara.
Seringkali terjadi, rumusan itu menggambarkan apa yang akan dilakukan guru
dalam proses pembelajaran. Jika rumusan semacam ini dibuat, tidak memberi
tuntutan kepada siswa untuk belajar sehingga memperoleh hasil tertentu. Dengan
singkat dapat dikemukakan bahwa rumusan tujuan harus menggambarkan bentuk hasil
belajar yang ingin dicapai siswa melalui proses
pembelajaran dilaksanakan.
Di tinjau dari aspek tujuan pendidikan agama islam yang
akan dicapai adalah mengantarkan peserta didik mampu memilih Al-Qur’an sebagai
pedoman hidup (kognitif), mampu menghargai Al-Qur’an sebagai pilihannya yang
paling benar (afektif), serta mampu bertindak dan mengamalkan pilihannya (Al-Qur’an
sebagai pedoman hidup) dalam kehidupan sehari-hari (psikomotorik).
Tujuan
pembelajaran ini bisa bersifat umum, umum-khusus dan khusus. Tujuan pendidikan
agama islam yang bersifat umum tercermin dalam GBPP mata pelajaran pendidikan
agama islam, yaitu : “meningkatkan keimanan, penghayatan, dan pengamalan siswa
terhadap agama Islam sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada
Allah serta beragkhlak mulia dalamkehidupan pribadi, masyarakat, berbangsa dan
bernegara serta untuk melanjutkan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi”(GBPP
1994). Tujuan dalam kontinum umum-khusus misalnya siswa memiliki kesadaran dan
bertanggung jawab terhadap lingkungan serta terbiasa menampilkan perilaku
agamis dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan tujuan yang lebih khusus misalnya ;
Peserta didik dapat memilih lingkungan yang bersih, sehat,
indah dan agamis Peserta didik dapat menghargai
lingkungan yang sehat, indah, agamis dan Peserta didik dapat berperilaku
menjaga lingkungan yang sehat, indah, dan agamis dalam kehidupan sehari-hari.
Tujuan pendidikan jangka panjang yang dirumuskan
sebagai pendekatan diri kepada Allah, dapat dicapai dengan melaksanakan ibadah
wajib dan sunnah serta mengkaji ilmu-ilmu fardhu ‘ain seperti ilmu syariah.
Sementara, orang-orang yang hanya menekuni ilmu fardhu kifayat sehingga
memperoleh profesi-profesi tertentu dan akhirnya mampu melaksanakan tugas-tugas
keduniaan dengan hasil yang optimal sekalipun, tetapi tidak disertai dengan
hidayah al-din, maka orang tersebut tidak akan semakin dekat dengan Allah.
Tujuan pendidikan jangka pendek menurut al-Ghazali
adalah diraihnya profesi manusia sesuai dengan bakat dan kemampuannya dengan
mengembangkan ilmu pengetahuan yang fardhu ‘ain dan fardhu kifayat. Masalah
kemuliaan duniawi bukanlah tujuan dasar dari seseorang yang melibatkan diri
dalam dunia pendidikan. Seorang penuntut ilmu seperti siswa, mahasiswa, guru,
atau dosen, akan memperoleh derajat, pangkat, dan segala macam kemuliaan lain
yang berupa pujian, kepopularitasan, dan sanjungan manakala ia benar-benar
mempunyai motivasi hendak meningkatkan kualitas dirinya melalui ilmu
pengetahuan untuk diamalkan. Sebab itulah, al-Ghazali menegaskan bahwa langkah
awal seseorang dalam proses pembelajaran adalah untuk menyucikan jiwa dari
kerendahan budi dan sifat-sifat tercela, dan motivasi pertama adalah untuk
menghidupkan syariat dan misi Rasulullah.
Dari beberapa pendapat tentang tujuan pendidikan Islam
diatas, kiranya bisa diambil kesimpulan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah
melahirkan manusia paripurna, terbaik, insan kamil atau manusia yang bertaqwa
yaitu sosok manusia yang memahami peran dan fungsinya dalam kehidupan serta
mendasarkan semuanya pada ajaran dan hukum Allah juga Rasul-Nya.
b.
Karakteristik
bidang studi pendidikan agama islam
Aspek-aspek suatu bidang study yang terbangun dalam
struktur isi dan konstruk atau tipe isi bidang study pendidikan agama islam berupa
fakta, hukum atau dalil, konsep, prinsip atau kaidah, prosedur dan keimanan
yang menyajikan kebenaran Al-Qur’an sebagai pedoman hidup manusia. Serta
menanamkan jiwa dengan akhlakul karimah sebagai landasan hidupnya dan dengan
tujuan agar siswa mampu berlaku sopan dan santun terhadap sesama dalam bergaul.
Bidang studi yang ada dalam pendidikan agama islam diantaranya
adalah, akidah dan akhlak yakni mempelajari tentang keesan Allah serta
mengajari akhlak-akhlak mahmudah, dengan tujuan untuk memberikan binaan
keyakinan tentang ketauhidan atau keEsaan Allah merupakan asal-usul dan tujuan
hidup manusia, dan mengarahkan siswa agar memiliki akhlakul karimah dalam
kehidupan sehari-hari dengan siapa pun dan dimanapun. Sejarah kebudayaan Islam
yakni menyiapkan peserta didik agar mempunyai pemahaman terhadap apa yang telah
diperbuat oleh orang-orang muslim sebagai katalisator, dan membawa perubahan
sesuai dengan tahapan kehidupan mereka. Qur’an Hadist yakni pelajaran yang
mempelajari ayat-ayat alqur’an dan hadist dengan tujuan agar peserta mampu
membaca dengan fasih yang sesuai dengan tajwidnya. Fiqh yakni mempelajari
tentang hukum-hukum islam.
c.
Kendala
pembelajaran
Namanya kendala tentunya pasti ada misalnya ;
keterbatasan sumber belajar yang ada, keterbatasan alokasi waktu dan
keterbatasan dana yang tersedia. Sehingga ini dapat menghambat dalam proses
pembelajaran. Kendala yang paling utama yang dihadapi pembelajaran pendidikan
agama islam adalah proses pembelajarannya, karena pendidikan agama islam masuk
dalam mata pelajaran sehingga cara pembelajarannya hanya transfer of knowledge, dan penerapannya sangat kurang sekali,
sehingga siswa yang mendapat pelajaran pendidikan agama islam namun tingkah
lakunya tidak mencerminkan Pendidikan agama islamnya, ini disebabkan karena
kurangnya pantauan dari orang tua serta peran guru dalam proses
pembelajarannya.
d.
Karakteristik peserta didik
Adalah
kualitas perseorangan peserta didik memiliki karakteristik yang berbeda
seperti, bakat gaya belajar, perkembangan moral, perkembangan kognitif, social
budaya, dan sebagainya.
Karakteristik peserta didik adalah kualitas
perseorangan peserta didik, seperti bakat, kemampuan awal yang dimiliki,
motivasi belajar dan kemungkinan hasil belajar yang akan dicapendidikan agama
islam.
Tujuan dan karakteristik bidang studi dihipotesiskan
memiliki pengaruh utama pada pemilihan strategi pengorganisasiam isi
pembelajaran. Kendala dan karakteristik bidang studi mempengaruhipemilihan
strategi pemilihan penyampendidikan agama islaman, dan karakteristik peserta
didik akan mempengaruhi strategi pengelolaan pembelajaran. Namun perlu diingat,
pada tingkat tertentu, dimungkinkan suatu kondisi pembelajaran akan
mempengaruhi setiap komponen pemilihan metode pembelajaran seperti
karakteristik siswa dapat mempengaruhi pemilihan strategi pengorganisasian isi dan strategi penyampaian agama islam.[16]
2.
Metode pembelajaran pendidikan agama islam
Metode
pembelajaran dapat diklasifikasikan menjadi :
a.
Strategi pengorganisasian,
Strategi pengorganisasian adalah suatu metode
untuk mengorganisasi isi bidang studi pendidikan agama islam yang pilih untuk pembelajaran. Pengorganisasian isi
bidang studi mengacu pada kegiatan
pemilihan isi, penataan isi, pembuatan diagram, skema dan sebagainya.
b.
Strategi penyampaian isi pembelajaran,
Strategi penyampaian isi pembelajaran pendidikan agama islam adalah metode-metode penyampaian agama islam pembelajaran pendidikan agama islam yang dikembangkan untuk membuat siswa dapat merespon dan meneriama pelajaran
pendidikan agama islam dengan mudah, cepat, dan menyenangkan. Strategi penyampaian isi pembelajaran ini berfungsi sebagai penyampaian isi pembelajaran kepada peserta didik dan
menyediakan informasi yang diperlukan peserta didik untuk menampilkan
unjuk kerja (hasil kerja).
Ada tiga komponen dalam strategi penyampaian ini, yaitu:
1.
Media pembelajaran
2.
Interaksi media pembelajaran
dengan peserta didik
3.
Pola atau bentuk belajar
mengajar.
Pemilihan media pembelajaran pendidikan agama islam sekurang-kurangnya
dapat mempertimbangkan beberapa hal yakni : kecermatan representative, tingkat
interaktif yang mampu ditimbulkan, tingkat kemempuan khusus yang
dimilikinya. Tingkat motivasi yang mampu ditimbulkannya dan tingkat biaya yang
diperlukannya. Interaksi peserta didik dengan media berarti bagaimana
peran media pembelajaran dalam meragsang kegiatan belajar peserta didik. Setiap
media pembelajaran pendidikan agama islam yang direncanakan hendaknya dipilih,
ditetapkan dan dikembangkan sehingga dapat meimbulkan interaksi peserta didik
dengan pesan-pesan yang di bawa media pembelajaran.
c.
Strategi pengelolaan
pembelajaran.
Strategi
pengelolaan pembelajaran adalah metode untuk menata interaksi antara peserta
didik dengan komponen-komponen metode pembelajaran lain, seperti
pengorganisasian dan penyampaian isi pembelajaran. Strategi
pembelajaran dapat ditinjau dari segi ilmu, seni dan atau keterampilan yang
digunakan pendidikan dalam upaya membantu (memotivasi, membimbing,
membelajarkan, memfasilitasi) peserta didik sehingga
mereka.
Pemilihan metode pembelajaran pendidikan agama islam sekurang-kurangnya
dapat mempertimbangkan lima hal, yaitu:
1.
Tingkat kecermatan
representasi
2.
Tingkat
interaktif yang mampu ditimbulkannya
3.
Tingkat
kemampuan khusus yang dimilikinya
4.
Tingkat motivasi
yang mampu ditimbulkannya
5.
Tingkat biaya
yang diperlukannya.
3.
Hasil
pembelajaran pendidikan agama islam
Dalam hasil pembelajaran pendidikan agama islam adalah
mencakup semua akibat yang dapat dijadikan indicator tentang nilai dari
penggunaan metode pembelajaran pendidikan agama islam dibawah kondisi
pembelajaran yang berbeda. Hasil pembelajaran pendidikan agama islam dapat berupa
hasil nyata (actual out-come) dan hasil yang di inginkan (desired out-come). Actual
out-come adalah hasil belajar pendidikan agama islam yang dicapai peserta didik secara nyata karena digunakannya suatu
metode pembelajaran pendidikan agama islam tertentu yang dikembangkan sesuai
dengan kondisi yang ada. Sedangkan desired
out-come merupakan tujuan yang ingin dicapai yang biasanya sering
memepengaruhi keputusan perancang pembelajaran pendidikan
agama islam dalam melakukan pilihan suatu metode pembelajaran yang paling baik
untuk digunakan sesuai dengan kondisi pembelajaran yang ada.
Sedangkan
indikator keberhasilan pembelajaran pendidikan agama islam dapat
di klasifikasikan menjadi tiga yaitu :
a.
Keefektifan
Pembelajaran
dikatakan efektif jika pembelajaran tersebut mampu memberikan atau menambah
informasi atau pengetahuan baru bagi siswa. Adapun keefektifan pembelajaran dapat diukur dengan criteria :
1.
Kecermatan penguasaan kemampuan atau perilaku yang
dipelajari
2.
Kecepatan unjuk kerja sebagai bentuk hasil belajar
3.
Kesesuaian dengan prosedur kegiatan belajar yang harus
ditempuh
4.
Kuantitas unjuk kerja sebagai bentuk hasil belajar
5.
Kualitas hasil akhir yang dapat dicapendidikan agama
islam
6.
Tingkat alih belajar
7.
Tingkat retensi belajar
b.
Efisiensi
Pembelajaran yang efisien adalah pembelajaran yang
menyenangkan, menggairahkan dan mampu memberikan motivasi bagi siswa dalam
belajar, sehingga pendidik harus bisa menciptakan sesuatu yang baru dalam
pembelajaran agar siswa tidak merasa jenuh dalam pembelajaran.
c.
Daya Tarik
Daya
tarik yang dimaksud dalam hal ini adalah pembelajaran itu diukur dengan
mengamati kecendurungan peserta didik untuk berkeinginan terus belajar. Dan serta harus dimotivasi agar peserta didik
dapat gemar dengan pendidikan agama islam. Karena akhir-akhir ini pendidikan
agama islam dianggap kuno sehingga minat untuk belajar sangatlah kurang dan
lebih memilih dengan pelajaran-pelajaran eksak yang dianggap penting dan populer
saat ini dan mengabaikan pelajaran pendidikan agama islam.
BAB III
KESIMPULAN
Dalam proses pembelajaran seorang guru sebagai
pengajar harus pandai-pandai dalam mengambil langkah agar proses pembelajaran
dapat terlaksana dengan baik dan tercapai tujuan pendidikan. Dan juga
dipengaruhi beberapa faktor yakni; kondisi pembelajaran agama, metode
pembelajaran pendidikan agama, dan hasil pembelajaran pendidikan agama, dimana
ketiga faktor tersebut terikat satu dengan yang lainnya. Hal tersebut diatas
dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
[1] Hujair Sananki, Paradigma Pendidikan Islam : Membangun masyarakat
Modern. (Yogyakarta : Safarina Insani Press,2003), 3.
[2] Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas. (Bandung : Citra Umbara, 2006), 72.
[4] Abdul Mujib dan jusuf Mudzakkar,
Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta :
Kencana Prenada Media, 2006), 83.
[5] Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran : Berorientasi Standar
Proses Pendidikan (Jakarta : Kencana Prenada Media Group, 2007), 49.
[6] Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2001),
145
[7] Abdur Rachman Shaleh, Madrasah dan Pendidikan Anak Bangsa (Jakarta
: Raja Gratindo Persada, 2004), 217.
[8]
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta :
Balai Pustaka,2001), 232.
[9]
M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan (Bandung :
PT.Remaja Rosdakarya, 1990), 102.
[10] Undang-Undang Republik Indonesia
Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas. (Bandung : Citra Umbara, 2006), 74.
[12] Ibid, 259.
[13] Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru
Profesional (Bandung: Remaja Rosdakarya, 1992), hlm.16-26
[14] Nana Sudiana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, (Bandung
: PT Sinar Baru Algesindo, 1989), 39.
[15]
Muhaimin, 146-149.
[16] Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, 151.